Menu

Mode Gelap
Sinergitas Forkopimcam Benai Tunjukkan Respon Cepat Evakuasi Pohon Tumbang Gerak Cepat Polisi Saat Bencana, Kapolsek Benai Turun Langsung Bantu Warga Terdampak Pohon Tumbang Meriah dan Khidmat, MTQ Kenegerian Benai ke-XV Tahun 2026 Resmi Ditutup, Desa Talontam Benai Raih Juara Umum Menjelang Putusan Kasus Korupsi Mantan Ketua DPRD Kuansing, Penasehat Hukum : Fakta Persidangan Dinilai Tidak Membuktikan Unsur Pidana. Samsat , Dishub & Jasa Raharja Berkolaborasi tentang Sosialisasi Pajak Kendaraan Bermotor Kunjungi Kantor Agrinas Pusat, FABEM Riau Sampaikan 20% Hak Masyarakat Harus Diberikan

Nasional

Gajah di Taman Nasional Tesso Nilo Riau Cuma Tersisa 150 Ekor, Hutannya Berubah Jadi Kebun

badge-check


					Gajah di Taman Nasional Tesso Nilo Riau Cuma Tersisa 150 Ekor, Hutannya Berubah Jadi Kebun Perbesar

PEKANBARU- Populasi Gajah liar di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Kabupaten Pelalawan, Riau, kian berkurang jumlahnya. Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro mengatakan, saat ini individu gajah liar di TNTN hanya sekitar 150 ekor.

 

Namun, dia menyebut berkurangnya jumlah gajah tidak begitu ekstrem.

 

“Kalau jumlahnya memang berkurang, cuma kan tidak drastis. Kalau saya katakan masih stabillah populasinya. Misalnya tahun 2004 berjumlah sekitar 200 ekor, saat ini sekitar 150 ekor,” kata Heru saat berbincang dengan Kompas.com melalui sambungan telepon, Selasa (25/11/2025).

 

Di TNTN ada dua kantong gajah sumatera, yakni Tesso Utara dan Tesso Tenggara. Untuk Tesso Utara terdapat satu kelompok gajah yang berjumlah sekitar 30 ekor.

 

Sedangkan di Tesso Tenggara, ada sekitar 120 ekor, terbagi dalam tiga atau empat kelompok. Salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya populasi gajah sumatera adalah karena perambahan hutan.

 

Masifnya alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan, membuat rumah gajah semakin terjepit.

 

Mereka menjadi kesulitan mendapatkan makanan dan obat-obatan dari tanaman alami hutan.

 

“Gajah itu butuh hutan primer atau hutan alami. Karena disitu tempat makanan yang beragam. Termasuk obat-obatan untuk dia di hutan alam Tesso Nilo. Jadi kenapa penting (menjaga) Tesso Nilo, karena itu apoteknya saya katakan. Apotek satwa liar ya di Tesso Nilo, karena hutan alaminya masih ada. Makanya perkembangan gajah bagus di sana,” kata Heru. Oleh sebab itu, perambahan harus dihentikan untuk mencegah kepunahan satwa terbesar di muka bumi itu.

 

Perambahan hutan tidak hanya mengancam satwa, tetapi juga kepada manusia. Salah satunya jika terjadi banjir akibat rusaknya hutan Seperti Desa Air Hitam dan Lubuk Kembang Bunga, Pelalawan, hampir setiap tahun dilanda banjir. “Hulu sungainya kan ada di Taman Nasional Tesso Nilo. Sungai Nilo yang bermuara ke Sungai Kampar, itu kan hulunya ada di Teso Nilo. Jadi bukan hanya gajah yang terdampak, tapi kehidupan manusia juga mengalami masalah,” kata Heru.

 

Sumber: Kompas.com

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kunjungi Kantor Agrinas Pusat, FABEM Riau Sampaikan 20% Hak Masyarakat Harus Diberikan

25 Januari 2026 - 07:21 WIB

#SaveTessoNilo Kembali Menggema: Kembalikan Rumah Gajah Tesso Nilo

27 November 2025 - 05:46 WIB

Kalapas Enemawira Paksa Napi Muslim Makan Daging Anjing, Komisi XIII: Copot dan Proses Secara Hukum

27 November 2025 - 04:22 WIB

Mengenal Taman Nasional Tesso Nilo, Habitat Asli Gajah yang Sumatra Kini Terancam.

27 November 2025 - 03:03 WIB

Dilema Konservasi Tesso Nilo: Antara Hak Asasi 50 Ribu Warga dan Kepunahan Gajah Sumatera

25 November 2025 - 03:01 WIB

Trending di Nasional